“Pada hakekatnya kreativitas bersifat unik, dan kemampuan anak-anak belum sepenuhnya kita ketahui sama sekali. Maka, bermain-main adalah salah satu pintu untuk melihat kemungkinan yang tak hanya tak terduga, tapi mencengangkan dari dunia anak-anak.” pikir 4 kurator dalam festival main.
JAKARTA – Memperingati Hari
Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, Galeri Nasional Indonesia Direktorat
Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. mengadakan festival
seni rupa anak dengan tema MAIN.
“Kami berpikir ‘MAIN’
adalah satu kebahagiaan atau mencapai suatu kebahagiaan. ‘MAIN’ juga mengawali
segala sesuatu yang positif” ucap Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto.
Dalam festival tersebut
terdapat pemutaran serangkaian film yang tali-temali dengan nilai edukasi,
lingkungan hidup, kreativitas, dan ilmu pengetahuan. Lokakarya dengan pelbagai
medium. Pertunjukkan dongeng yang membangun imajinasi. Pelbagai permainan dan
percobaan yang merangsang motoric dan sensorik anak-anak. Ada pula pameran
lukisan di tiga ruang terpisah, yang diikuti oleh 72 peserta pameran dari 376
karya. Di pilih oleh 4 kurator terkenal, Asikin Hasan, Citra Smara Dewi, Teguh
Margono, Bayu Genia Krishbie.
MAIN juga didukung oleh
lembaga yang punya perhatian pada pertumbuhan dan kreativitas anak yakni, Museum
Basoeki Abdullah, Dinas Kebudayaan DIY, The Japan Foundation. Jakarta, Bali
Estetik Art (beArt) & Management, Perkumpulan Baturulangun Batuab Bali,
ars86care foundation, Komunitas Hong, Sanggar Gambar Ananda Bandung, RovingLAB,
Ganara Art, PicuPacu Creative Children Community, Goethe-Institut Indonesian.
Acara yang di buka oleh
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kemendikbud, Arief Rachman.
Pada 23 Juli 2019 kemarin bertujuan untuk dapat menyuruk lebih dalam pada
potensi lain anak yang belum tergali.


