Berbeda dari yang lain, begitulah
kata yang tepat untuk kedai kopi sunyi. Keunikannya bukan ditonjolkan pada menu
makanan, minuman atau design ruangan, namun pada konsep kedai. Ngopi dilayani
oleh teman-teman difabel. Berawal dari Mario yang membawa isu difabel bertemu
dengan Almas yang hobi meracik kopi, akhirnya pada April 2019, kopi Sunyi resmi
dibuka.
Semua pekerja di kopi Sunyi
adalah teman-teman difabel, mulai dari designer,
tukang parkir, kasir, hingga barista. Konsep ini disambut baik oleh masyarakat.
Setiap hari kopi sunyi ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Untuk memesan
makanan dan minuman, kalian bisa tunjuk tulisan yang ada di menu, jadi jangan
khawatir. Rasa makanan dan minuman disini tidak mengecewakan, meski dengan
harga standart mulai dari 20 ribu hingga 38 ribu. Kopi Sunyi di design ramah difabel, terdapat guiding block dan space
kosong di tengah untuk memudahkan teman-teman yang menggunakan kursi roda. Selain
itu, yang paling menarik disini, pengunjung juga bisa belajar bahasa isyarat.
Menurut Almas, salah satu
Co-Founder kopi Sunyi, kata sunyi bermakna sunyi dari perbedaan, sunyi dari
diskriminasi, dan sunyi dari intimidasi. Kata Sunyi diambil untuk menjelaskan
bahwa semua orang sama dan setara. Sementara, gambar tangan yang berbeda warna pada
logo kedai ini, bermakna bahwa setiap orang berbeda-beda yang disatukan melalui
kopi.
Almas menambahkan alasan kedai
kopi ini didirikan, karena para pendiri kopi Sunyi peduli terhadap teman-teman
difabel yang kurang mendapat perhatian dan
sering dianggap remeh oleh masyarakat, sehingga banyak teman-teman difabel yang
kesulitan mencari kerja.
Kopi sunyi memberikan banyak pelajaran bagi
saya. Untuk saling menghargai, peduli, dan tidak menganggap beda teman-teman
difabel, karena mereka juga memiliki mimpi dan hak yang sama sebagai manusia. Berawal
dari penasaran berakhir dengan kenyamanan.
![]() |
| Almas Nizar, Co Founder Kopi Sunyi |

