Saturday, July 21, 2018

JALAN YANG BERBEDA




“Saat itu yang Saya rasakan badan terasa panas, kaki keram dan tiba-tiba saja sekujur badan terasa kaku sampai tidak sadarkan diri dan divonis terkena heat stroke oleh medis.” Ucap Pak Indy mengingat pengalamannya.

Indy Dwi Kastoro seorang guru olahraga favorit di salah satu sekolah menengah atas yang akrab dipanggil pak botak. Beliau memiliki kepribadian yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain, beliau juga sering memberikan motivasi kepada siswanya. Tidak disangka bahwa pria kelahiran 14 Desember 1990 itu ternyata memiliki pengalaman yang dapat membuat saya belajar untuk ikhlas dalam menjalani hidup, untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah swt.
Berawal dari cita-citanya yang ingin menjadi seorang atlet saat duduk dibangku SMA, kemudian ia berniat untuk mewujudkannya dan ternyata jalannya dipermudah oleh Allah swt. Ia diterima masuk Universitas Negri Jakarta melalui prestasinya di bidang olahraga bulu tangkis, kemudian di bangku kuliah ia mencoba menekuni cabang olahraga hockey.
“Saya memilih menekuni cabang olahraga hockey karena saya merasa prospek kerja dan cita-cita saya bisa tercapai melalui olahraga ini ”. Ucapnya memberi alasan
Usaha kerasnya tidak sia-sia di tahun 2016 dirinya terpilih untuk bermain hockey di PON (Pekan Olahraga Nasional) yang saat itu  diselenggarakan di Jawa Barat dan ia berhasil membawa pulang medali perunggu untuk DKI Jakarta. Hal ini  membuat pelatih percaya kepada dirinya untuk mewakili Indonesia di Sea Games 2016.
“Saya sangat senang, dan merasa gak nyangka karena pada saat itu banyak banget yang kualitas dan performanya lebih bagus dari Saya, merasa sangat bersyukur dan berdoa semoga bisa memberikan yang terbaik”. Ucapnya mengenang masa itu
Pada saat itu lawan pertama Indonesia adalah Singapore dengan 4 babak, satu babaknya berlangsung selama 15 menit. Dengan posisi sebagai penjaga gawang atau yang biasa disebut goalie, di babak pertama beliau masih menjadi pemain cadangan dan mulai bermain di babak kedua.
Babak kedua pun berakhir dengan baik, namun di akhir babak ketiga beliau mulai merasa tidak kuat karena pada saat itu pemain Singapore terus menerus menyerang ditambah dengan kondisi cuaca di Malaysia sekitar 34 derajat celcius.
“Di akhir babak kedua itu saya sudah merasa tidak kuat, tapi karena ini adalah cita-cita  yang tinggal selangkah lagi maka dari itu sekuat tenaga saya berusaha untuk tetap kuat”. Ucap Pak Indy
Sayang sekali di babak terakhir Beliau tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya. Beliau memberikan signal ke pelatih bahwa ia ingin diganti karena kondisi fisiknya yang sudah sangat letih namun pelatih memaksanya untuk tetap bermain.
“Saat itu yang Saya rasakan badan terasa panas, kaki keram dan tiba-tiba saja sekujur badan terasa kaku sampai tidak sadarkan diri dan divonis terkena heat stroke oleh medis.” Ucap Pak Indy mengingat pengalamannya.
Hal tersebut juga dikarenakan pakaian legguard (sebutan untuk pakaian penjaga gawang hockey) yang menghambat suhu di dalam tubuh tidak keluar, medis mengatakan Pak Indy terkena heat stroke. Tim medis mengambil tindakan untuk mengompres seluruh tubuh dengan es, karena peralatan medis kurang lengkap saat itu akhirnya beliau dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit Pak Indy dimasukkan kedalam UGD dan langsung disuntik untuk mengeluarkan darahnya, saat itu Pak Indy masih dalam kondisi sadar namun memang suit untuk bergerak.
Saat itu kondisi Pak Indy hanya bisa pasrah. Karena menurutnya Keramnya benar-benar keram seperti pembuluh darah yang mau pecah, yang bisa ia lakukan hanya bisa pasrah, dan saat itu ia sempat menagatakan.
“Ya Allah titip istri dan anak-anak”. Ucap nya dengan penuh kepasrahan


Setelah diberikan dopin semacam vitamin untuk pemulihan, kondisi Pak Indy mulai membaik. Detak jantungnya mulai kembali normal.
“Bisa dibilang disini adalah detik-detik yang paling membangggakan selama bermain hockey, berusaha bertahan hidup dalam mimpi yang sedang Saya wujudkan”. Ucapnya tegas
Kejadian tersebut ternyata berdampak panjang untuk kariernya Pak Indy, mimpinya menjadi seorang atlet malah semakin jauh. Di kejuaraan Nasional 2017 Beliau tidak lagi terpanggil ke DKI dan berimbas juga pada Asian Games 2018 ini. Dan menjelang PELATDA PON 2020 nama Beliau masuk namun hingga saat ini belum ada panggilan untuk persiapan PON 2020.
“Saat itu saya sempat berfikir bahwa karier saya di hockey sudah berakhir”. Ucapnya putus asa
“Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, Saya berfikir jika memang bukan rejekinya mau gimanapun ya gak akan dapat, jadi saya mencoba untuk ikhlas karena kan yang terbaik menurut saya belum tentu yang terbaik menurut Allah”. Ucapnya menyemangati dirinya sendiri
Setelah kejadian tersebut kemudian Pak Indy mulai  melamar kerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah atas, disana Beliau menjadi guru olahraga yang kemudian mejadi sosok yang sangat dibanggakan karena berhasil membimbing beberapa muridnya untuk masuk universitas negri melalui jalur prestasi olahraga hockey.

Beliau memang tidak bisa menjadi seorang atlet namun beliau bisa menghasilkan calon-calon atlet muda yang berbakat melalui kariernya saat ini.

No comments:

Post a Comment

Wounds

Wounds   Two months to the end of 2021 felt so deep for me The job that felt fun changed into boring thing Friends that always around ...