“Saat itu yang Saya rasakan badan terasa panas, kaki keram dan tiba-tiba
saja sekujur badan terasa kaku sampai tidak sadarkan diri dan divonis terkena
heat stroke oleh medis.” Ucap Pak Indy mengingat pengalamannya.
Indy Dwi Kastoro seorang guru olahraga favorit di salah satu sekolah
menengah atas yang akrab dipanggil pak botak. Beliau memiliki kepribadian yang
ramah dan mudah akrab dengan orang lain, beliau juga sering memberikan motivasi
kepada siswanya. Tidak disangka bahwa pria kelahiran 14 Desember 1990 itu ternyata
memiliki pengalaman yang dapat membuat saya belajar untuk ikhlas dalam
menjalani hidup, untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah swt.
Berawal dari cita-citanya yang ingin menjadi seorang atlet saat duduk
dibangku SMA, kemudian ia berniat untuk mewujudkannya dan ternyata jalannya
dipermudah oleh Allah swt. Ia diterima masuk Universitas Negri Jakarta melalui
prestasinya di bidang olahraga bulu tangkis, kemudian di bangku kuliah ia
mencoba menekuni cabang olahraga hockey.
“Saya memilih menekuni cabang olahraga hockey karena saya merasa prospek
kerja dan cita-cita saya bisa tercapai melalui olahraga ini ”. Ucapnya memberi
alasan
Usaha kerasnya tidak sia-sia di tahun 2016 dirinya terpilih untuk
bermain hockey di PON (Pekan Olahraga Nasional) yang saat itu diselenggarakan di Jawa Barat dan ia berhasil
membawa pulang medali perunggu untuk DKI Jakarta. Hal ini membuat pelatih percaya kepada dirinya untuk
mewakili Indonesia di Sea Games 2016.
“Saya sangat senang, dan merasa gak nyangka karena pada saat itu banyak
banget yang kualitas dan performanya lebih bagus dari Saya, merasa sangat
bersyukur dan berdoa semoga bisa memberikan yang terbaik”. Ucapnya mengenang
masa itu
Pada saat itu lawan pertama Indonesia adalah Singapore dengan 4 babak,
satu babaknya berlangsung selama 15 menit. Dengan posisi sebagai penjaga gawang
atau yang biasa disebut goalie, di babak pertama beliau masih menjadi pemain
cadangan dan mulai bermain di babak kedua.
Babak kedua pun berakhir dengan baik, namun di akhir babak ketiga beliau
mulai merasa tidak kuat karena pada saat itu pemain Singapore terus menerus
menyerang ditambah dengan kondisi cuaca di Malaysia sekitar 34 derajat celcius.
“Di akhir babak kedua itu saya sudah merasa tidak kuat, tapi karena ini
adalah cita-cita yang tinggal selangkah
lagi maka dari itu sekuat tenaga saya berusaha untuk tetap kuat”. Ucap Pak Indy
Sayang sekali di babak terakhir Beliau tidak mampu lagi menahan rasa
sakitnya. Beliau memberikan signal ke pelatih bahwa ia ingin diganti karena
kondisi fisiknya yang sudah sangat letih namun pelatih memaksanya untuk tetap
bermain.
“Saat itu yang Saya rasakan badan terasa panas, kaki keram dan tiba-tiba
saja sekujur badan terasa kaku sampai tidak sadarkan diri dan divonis terkena
heat stroke oleh medis.” Ucap Pak Indy mengingat pengalamannya.
Hal tersebut juga dikarenakan pakaian legguard (sebutan untuk pakaian
penjaga gawang hockey) yang menghambat suhu di dalam tubuh tidak keluar, medis
mengatakan Pak Indy terkena heat stroke. Tim medis mengambil tindakan untuk
mengompres seluruh tubuh dengan es, karena peralatan medis kurang lengkap saat
itu akhirnya beliau dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit Pak Indy dimasukkan kedalam UGD dan langsung
disuntik untuk mengeluarkan darahnya, saat itu Pak Indy masih dalam kondisi
sadar namun memang suit untuk bergerak.
Saat itu kondisi Pak Indy hanya bisa pasrah. Karena menurutnya Keramnya
benar-benar keram seperti pembuluh darah yang mau pecah, yang bisa ia lakukan hanya
bisa pasrah, dan saat itu ia sempat menagatakan.
“Ya Allah titip istri dan anak-anak”. Ucap nya dengan penuh kepasrahan
Setelah diberikan dopin semacam vitamin untuk pemulihan, kondisi Pak
Indy mulai membaik. Detak jantungnya mulai kembali normal.
“Bisa dibilang disini adalah detik-detik yang paling membangggakan
selama bermain hockey, berusaha bertahan hidup dalam mimpi yang sedang Saya wujudkan”.
Ucapnya tegas
Kejadian tersebut ternyata berdampak panjang untuk kariernya Pak Indy,
mimpinya menjadi seorang atlet malah semakin jauh. Di kejuaraan Nasional 2017
Beliau tidak lagi terpanggil ke DKI dan berimbas juga pada Asian Games 2018
ini. Dan menjelang PELATDA PON 2020 nama Beliau masuk namun hingga saat ini
belum ada panggilan untuk persiapan PON 2020.
“Saat itu saya sempat berfikir bahwa karier saya di hockey sudah
berakhir”. Ucapnya putus asa
“Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, Saya berfikir jika memang
bukan rejekinya mau gimanapun ya gak akan dapat, jadi saya mencoba untuk ikhlas
karena kan yang terbaik menurut saya belum tentu yang terbaik menurut Allah”.
Ucapnya menyemangati dirinya sendiri
Setelah kejadian tersebut kemudian Pak Indy mulai melamar kerja sebagai guru di salah satu
sekolah menengah atas, disana Beliau menjadi guru olahraga yang kemudian mejadi
sosok yang sangat dibanggakan karena berhasil membimbing beberapa muridnya
untuk masuk universitas negri melalui jalur prestasi olahraga hockey.
Beliau memang tidak bisa menjadi seorang atlet namun beliau bisa
menghasilkan calon-calon atlet muda yang berbakat melalui kariernya saat ini.


No comments:
Post a Comment